@age_mavia

@age_mavia
MENJELAJAH UNTUK BERBAGI

ALONEDIECTIVITWEET

Hak cipta dilindungi. Diberdayakan oleh Blogger.

Ketika Ahmad bin Khudriya Kedatangan Pencuri

Fathoni, NU Online | Jumat, 03 November 2017 09:01


Dalam Tadzkirah al-Auliya’, Fariduddin Attar mencatat salah satu kisah sufi besar dari Balkh. Di kitab itu diceritakan:

أن سارقا دخل بيته, ودار في أطرفه, ولم يجد شيئًا فَأراد أن يخرج فقال له أحمد: يا فتي, خذ الدلوَ واستق الماء من البئر وتوضّأ واشتغل بالصلاة وقف هنا, فإن رزقني الله تعالي شيئا أعطيك لئلا تخرج من عندنا محروما. ففعل السارق ما أمر به الشيخ, ففي الغد جاء رجل وأتي بمئة دينار, ووضعه بين يدي الشيخ, فقال الشيخ للسارق: حذ هذا, فإنه جزاء لصلاتك ليلة واحدة. فظهرت للسارق حالة عجيبة, ووقعت رجفة علي أعضائه وشرع في البكاء, وقال: أخطأت الطريق لأنّي عملت لله تعالي ليلة واحدة فأكرمني بهذا. فتاب ورجع إلي الله تعالي ببركة حسن خلق أحمد.

Ada pencuri masuk di rumah Imam Ahmad bin Khudriya. Ia mencari ke setiap sudut rumah tapi tidak dapat menemukan apa-apa. Ia memutuskan pergi meninggalkan rumah (dengan kecewa), kemudian Imam Ahmad berkata kepadanya:

“Wahai pemuda, ambillah ember dan timbalah air dari sumur. Berwudulah, lalu laksanakan shalat. Tinggallah di sini. Jika Allah memberikan rizki kepadaku, akan kuberikan kepadamu, agar kau tidak keluar dari rumahku dengan tangan hampa.”

Pencuri itu mengikuti saran Imam Ahmad bin Khudriya. Di pagi harinya, datang seorang laki-laki membawa seratus dinar dan memberikannya kepada Imam Ahmad. Kemudian Imam Ahmad bin Khudriya berkata kepada pencuri itu:

“Ambillah ini. Sesungguhnya, ini adalah upah untuk shalatmu malam tadi.”

Pencuri itu terkejut kagum. Tubuhnya bergetar dan air matanya tumpah. Ia berucap:

“Aku telah mengambil jalan yang salah. Aku hanya bekerja satu malam untuk Tuhan, dan Tuhan memuliakanku dengan ini.”

Pencuri muda itu bertaubat dan kembali ke jalan Allah berkat kehalusan pekerti Imam Ahmad bin Khudriya rahimahu Allah. (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 372).

Orang-orang shalih adalah orang-orang yang menyembah Tuhan dengan cita rasa tinggi. Cita rasa yang hadir dari penyisihan kelalaian (ghaflah) dalam mengingat dan menghadirkanNya di hati dan gerak kehidupan. Dengan menyisihkan lalai, manusia selalu teringat tujuan Tuhan mengutus nabiNya, “makarim al-akhlaq” atau “mashalih al-akhlaq”, yang keduanya bermakna hampir sama, “menyempurnakan kemuliaan akhlak” dan “memperindah kebaikan akhlak.” Selama manusia menggenggam teguh hal itu, dimanapun dan kapanpun Ia berada, tujuan diutusnya Nabi Muhammad akan selalu membaur dalam kehidupannya.

Ketika seseorang telah sampai pada keluhuran pekerti, Ia tidak akan takut pada apapun. Kepasrahan adalah jalan hidupnya. Seperti yang dilakukan Imam Ahmad bin Khudriya (145-240 H), Ia tidak takut pencuri itu akan menyakitinya. Ia memutuskan keluar dan menyapanya, merasa bersalah karena tidak bisa memberikan apa-apa pada pencuri muda itu (orang yang membutuhkan).

Kemudian, tanpa keraguan sedikit pun, Ia menyuruh pencuri muda itu mengambil wudlu dan shalat, memintanya tinggal di rumahnya hingga Ia mendapatkan rizki untuk diberikan kepadanya. Seorang tamu yang membutuhkan, tidak layak pulang tanpa membawa apa-apa.

Apa yang dilakukan Imam Ahmad, bukan hal mudah. Perbuatannya mengandung banyak arah kebaikan. Yang pertama, tidak dapat membantu orang yang membutuhkan adalah bercak hitam bagi keluhuran pekerti. Ia sering mengatakan: “man khadama al-fuqara’ ukrima bi tsalatsah al-asya’a, bi al-tawadlu’ wa husn al-adab wa sakhawah al-nafs—orang yang melayani orang-orang miskin pasti dimuliakan dengan tiga hal: ketawadluan, kebagusan pekerti dan kemurahan hati.” (Ibnu Mulaqqin, Thabaqat al-Auliya, Kairo: Maktaba al-Khaniji, 1994, hlm 37). Andai Ia gagal memuliakan pencuri yang membutuhkan itu, ia akan kehilangan tiga kemuliaan tersebut.

Kedua, menjanjikan pemberian dengan syarat tertentu,membuat pencuri itu merasakan ibadah di saat menanti anugerah. Apa yang dilakukannya berdasarkan kalkulasi yang jelas. Ia yakin betul akan mendapatkan rizki dari Allah, jika tidak hari ini, masih ada besok dan besoknya lagi.

Dengan membiarkannya tinggal di rumahnya, pemuda itu mendapatkan makanan darinya, melihat kehidupannya, dengan syarat Ia menjalankan shalat seperti yang diperintahkan Imam Ahmad. Hal ini mempermudah pemuda itu dalam membuka hatinya, menjamu kehadiran hidayah dari yang Maha Suci, Allah SWT.

Ketiga, tanpa rasa berat sedikit pun, Imam Ahmad bin Khudriya memberikan semua uangnya, seratus dinar. Hal ini membuat pencuri muda itu kaget sekaligus terharu. Tubuhnya gemetar dan air matanya mengalir deras. Wajah Imam Ahmad yang menampakkan keberlepasannya terhadap harta benda menjadi pembuka bagi keharuan pencuri itu. 

Ditambah pemilihan bahasanya yang menarik, dengan mengatakan: “Ambillah ini. Sesungguhnya, ini adalah upah untuk shalatmu malam tadi.”Dengan kalimat itu, Imam Ahmad hendak memberikan pelajaran bahwa menyembah Tuhan adalah kenikmatan tiada tara, melebihi dunia beserta isinya, apalagi sekedar uang seratus dinar.

Pendekatan akhlak dalam menyentuh hati seseorang mengalahkan berbagai macam pendekatan lainnya, termasuk mengalahkan pendekatan mukjizat. Banyak nabi yang dianugerahi mukjizat luar biasa tapi keberhasilan dakwahnya tidak seperti Nabi Muhammad Saw, seorang nabi yang jarang menampakkan keajaiban mukjizat, tapi menampilkan akhlak mulia yang sukar disanggah oleh suara hati.

Hal inilah yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Khudriya dalam menjalani kehidupannya, yaitu meneladani Nabi Muhammad Saw. Dan,kisah di atas adalah bukti keluhuran pekertinya. Karena itu, wajar saja jika Fariduddin Attar memandang taubatnya pencuri itu oleh sebab, “bi barakati husn khuluq Ahmad—berkat kehalusan pekerti Ahmad bin Khudriya.” Pertanyaannya adalah, sudahkah kita memperhalus budi pekerti kita? Wallahu a’lam...

Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/82882/ketika-ahmad-bin-khudriya-kedatangan-pencuri

Sabar itu aktif

Sabar aktif itu sabar mencapai tujuan, dengan aktif mencari solusi, menikmati prosesnya, bahkan di saat terburuk sekali pun.

 

kesabaran bukanlah menunggu. Namun, kesabaran adalah usaha tanpa kenal lelah. Usaha tanpa menyerah. Dan memberikan segala hasil pada yang Maha Kuasa. Jika kita memahami sabar hanya sekedar “nerimo” maupun pasrah, maka kita menempatkan sabar pada posisi yang keliru. Dengan kata lain itu bukan sabar, namun menyerah pada keadaan.

 

Jadi supaya tidak keliru menempatkan istilah sabar, ingatlah, sabar itu bukan pasif, tapi aktif. Bukan hanya diam tanpa gerak dan tanpa semangat. Sabar itu aktif berusaha. Aktif bekerja. Aktif memperbaiki diri dan aktif berdoa. 

 

 

berikut contoh alam

salah satu fauna, ngengat misalnya. Ngengat memiliki keistimewaan dalam berkomunikasi. Antenanya berfungsi sebagai indera pengecap dan juga perasa. Antena ngengat mampu menangkap sinyal dari lawan jenis maupun sinyal bahaya. Khusus untuk lawan jenis, ngengat betina mengeluarkan feromon, semacam zat penarik ngengat jantan untuk memberikan posisi dan letaknya kepada ngengat jantan. Feromon tersebut mampu diindera dari jarak sekitar 15 km. Jarak tersebut sangatlah jauh bagi ngengat untuk ditempuh. Dalam kondisi menunggu, ngengat betina harus bersabar, dengan tetap mengeluarkan feromon dan getaran dari sayapnya untuk memastikan posisinya pada sang jantan. Sedangkan ngengat jantan, harus bersabar dalam mencari ngengat betina. Karena petunjuk yang ada hanya dari jejak zat kimia feromon. Oleh karena itu dirinya terbang zig-zag untuk mengetahui koordinat ngengat betina. Sabar itu pasti. Tapi usaha tetap jalan terus. Penerbangan ini butuh waktu sekitar setengah hingga satu hari penuh.

Ini adalah salah satu contoh kesabaran yang diberikan oleh alam.

Sabar itu adalah ilmu tingkat tinggi, yang belajarnya harus tiap hari, dan latihannyapun harus setiap saat, tetapi ujiannya selalu mendadak. Sekolahnya seumur hidup.

EMPAT PERKARA TIPS HIDUP SEHAT

Minggu, 17 Desember 2017

Empat perkara menguatkan badan:


1. makan daging
2. memakai haruman
3. kerap mandi
4. berpakaian dari kapas

Empat perkara melemahkan badan..
1. banyak berkelamin (bersetubuh)
2. selalu cemas
3. banyak minum air ketika makan
4. banyak makan bahan yang masam

Empat perkara menajamkan mata:
1. duduk mengadap kiblat
2. bercelak sebelum tidur
3. memandang yang hijau
4. berpakaian bersih

Empat perkara merosakkan mata:
1. memandang najis
2. melihat orang dibunuh
3. melihat kemaluan
4. membelakangi kiblat

Empat perkara menajamkan fikiran:
1. tidak banyak berbual kosong
2. rajin siwak atau bersugi (gosok gigi)
3. bercakap dengan orang soleh
4. bergaul dengan para ulama

Yang Kuat Yang Dicintai Allah

Faktor Gelap dan Terang Hati

Kamis, 11 Mei 2017

'Abdullah bin Mas'ud r.a pernah berkata :

"Empat hal yang termasuk penyebab gelapnya hati, yaitu :

1. Perut yang terlalu kenyang.
2. Berteman dengan orang-orang zhalim.
3. Melupakan dosa yang pernah dilakukan.
4. Panjang angan-angan.

Empat hal yang termasuk penyebab terangnya hati, yaitu :

1. Perut lapar karena tindakan hati-hati.
2. Berteman dengan orang-orang yang shalih.
3. Mengingat dosa yang pernah dilakukan.
4. Tidak panjang angan-angan.